MANAJEMEN KELAS
Nama : Reni Anggraini Gunawan
NIM : 11901017
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliah : Magang 1
Dosen : Farninda Aditya, M. Pd.
LAPORAN BACAAN 5
MANAJEMEN KELAS
Manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris management
dengan kata kerja tomanage yang berarti mengurusi, mengemudikan,
mengelola, menjalankan, membina atau memimpin. Kata benda management dan
manage berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen. Manajemen memiliki
arti pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya
secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan (Rinja Efendi
dan Delita Gustriani: 2020).
Manajemen kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan
kelas. Manajemen merupakan rangkaian usaha untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan kelas merupakan suatu
kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan, di dalam kelas tersebut guru berperan sebagai manajer
utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan
pengawasan atau supervisi kelas. Kelas dalam perspektif pendidikan dapat
dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama,
menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama.
Manajemen kelas bertujuan menciptakan suasana kelas yang
nyaman dan kondusif, agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan kondusif.
Dengan begitu, jika peserta didik sudah merasakan kenyamanan dalam belajar,
maka tujuan pembelajaran yang ingin disampaikan guru akan mudah untuk tercapai,
dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Guru sebagai pelaksana
pembelajaran memiliki peran untuk mampu mewujudkan kelas yang kondusif untuk
proses pembelajaran. Kelas merupakan lingkungan belajar atau kelompok belajar,
dimana peserta didik dapat berinteraksi dengan sesama teman, guru dan
lingkungan belajar, dimana orang-orang di dalamnya dapat mengembangkan
kemampuan semaksimal mungkin. Peserta didik akan mengalami kesulitan apabila
lingkungan tempat pembelajaran tidak mendukung (Rinja Efendi dan Delita
Gustriani: 2020).
Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja Efendi dan Delita
Gustrianai, tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut:
1) Mewujudkan
situasi dan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai
kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan
kemampuannya semaksimal mungkin.
2) Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3) Menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan
peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelek
siswa dalam belajar.
4) Membina
dan membimbing peserta didik sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi,
budaya, serta sifat-sifat individunya.
Manajemen kelas bertujuan untuk
meningkatkan efektifitas serta memaksimalkan waktu belajar demi pencapaian
tujuan pembelajaran yang kondusif. Keberhasilan sebuah kegiatan dapat dilihat
dari hasil yang dicapainya. Dalam proses pengelolaan kelas, keberhasilannya
dapat dilihat dari tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh sebab itu guru harus
menetapkan tujuan apa yang hendak dicapainya dengan kegiatan pengelolaan atau
manajemen kelas yang dilakukan.
Menurut Arikunto (2004) dalam Rinja
Efendi dan Delita Gustrianai, terdapat sifat-sifat dari manajemen kelas yaitu
otoritatif, permisif, behavior modification, sosio-emosional, sosial.
1) Otoritatif,
merupakan penerapan manajemen kelas yang berorientasi pada kedisiplinan peserta
didik dan bertujuan untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana
belajar yang kondusif.
2) Permisif,
yaitu penerapan manajemen kelas yang bertujuan untuk memaksimalkan perwujudan
kebebasan peserta didik.
3) Behavior
modification, dimana penerapan manajemen kelas berfokus pada penanaman akhlak
terpuji dan budi pekerti luhur peserta didik.
4) Sosio-emosional,
merupakan penerapan manajemen kelas yang berprinsip dasar pada kegiatan belajar
yang akan berkembang secara maksimal dengan hubungan antara guru dan peserta
didik terjalin dengan baik.
5) Sosial,
yakni penerapan manajemen kelas yang berdasarkan anggapan bahwa kelas merupakan
sistem sosial dengan proses kelompok sebagai gantinya.
Terdapat pula fungsi dari manajemen
kelas, yaitu:
1) Memberi
dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti membantu kelompok
dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerja sama dalam
menemukan tujuan-tujuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama
dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, dan merubah kondisi kelas.
2) Memelihara
agar tugas-tugas dapat berjalan lancar. Fungsi manajemen kelas sebenarnya
merupakan penerapan-penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di
dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak
dicapainya. Menurut Suhardan dkk (2009) dalam Rinja Efendi dan Delita
Gustrianai, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen harus disesuaikan dengan dasar
filosofis dan pendidikan (belajar mengajar) di dalam kelas, yang meliputi:
a) Merencanakan,
yaitu membuat suatu target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Pada
organisasi, merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan secara
matang arah tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan
metode atau teknik yang tepat. Perencanaan berarti pekerjaan guru untuk
menyusun tujuan belajar yang meliputi 1) memperkirakan tuntutan, 2) merumuskan
tujuan dalam silabus kegiatan instruksional, 3) menentukan urutan topik, 4)
topik yang harus dipelajari, 5) mengalokasikan waktu yang telah tersedia, dan
menganggarkan sumber-sumber yang diperlukan oleh guru.
b) Mengorganisasikan
berarti: 1) menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan organisasi, 2) merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi
orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan, 3) menugaskan seseorang atau
kelompok orang dalam suatu tanggungjawab tugas dan fungsi tertentu, 4) mendelegasikan
wewenang kepada individu yang berhubungan dengan keleluasaan melaksanakan
tugas.
c) Di
dalam kelas memimpin merupakan pekerjaan seorang guru untuk memberikan
motivasi, dorongan dan menstimulasikan peserta didik untuk tetap terus belajar,
sehingga mereka siap untuk mewujudkan tujuan belajar.
d) Mengawasi
(controlling), merupakan pekerjaan seorang guru untuk menentukan apakah
fungsinya dalam mengorganisasikan telah berhasil dalam mewujudkan tujuan yang
telah dirumuskan. Jika tujuan belum dapat diwujudkan, maka guru harus menilai dan
mengatur kembali situasi pembelajaran nya dan bukan mengubah tujuannya.
Terdapat beberapa pendekatan dalam
manajemen kelas, yaitu (Moh. Toharudin):
1) Pendekatan
Kekuasaan. Pendekatan ini merupakan suatu proses untuk mengontrol perilaku
peserta didik di dalam kelas. Peran seorang guru dalam pendekatan ini adalah
menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan akan
menciptakan ketaatan peseta didik di kelas. Kedisiplinan yang di terapkan guru
dilandasi oleh kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati oleh seluruh
individu di dalam kelas.
2) Pendekatan
Ancaman. Pendekatan ancaman adalah pendekatan untuk mengontrol perilaku peserta
didik di dalam kelas. Pendekatan ini dapat diimplementasikan melalui papan
larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang
membantah, yang semua ditujukan agar peserta didik mengikuti apa yang
diinstruksikan oleh guru. Peran guru dalam pendekatan ini adalah memberikan
kesadaran dan efek jera kepada peserta didik agar mampu untuk belajar sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
3) Pendekatan
Kebebasan. Pendekatan ini membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan
untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan, tanpa dibatasi
oleh waktu atau tempat. Peran guru di pendekatan ini ialah mengusahakan dengan
semaksimal mungkin bahwa kebebasan peserta didik merupakan prioritas dalam
proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pendekatan
kebebasan ini harus dalam arahan yang ketat dari guru agar proses belajar yang
dilakukan sesuai dengan apa yang diharapkan dan ditetapkan dalam tujuan
pembelajaran.
4) Pendekatan
Resep. Pendekatan resep atau cook book dilaksanakan dengan memberi satu
daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh
dilakukan guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas.
Pada daftar tersebut dicantumkan tahap demi tahap apa yang harus dilakukan oleh
guru. Peran guru di pendekatan ini hanya mengikuti petunjuk demi petunjuk yang ada
di dalam resep.
5) Pendekatan
Pengajaran. Pendekatan ini didasarkan atas satu anggapan bahwa pengajaran yang
baik akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebabkan oleh peserta didik
di dalam kelas. Pendekatan pengajaran ini mampu mendeteksi masalah yang mungkin
timbul dari perilaku peserta didik di dalam kelas. Peran guru di sini ialah
sebagai pengajar pembelajaran untuk mencegah dan menghentikan perilaku peserta
didik yang kurang baik di kelas. Guru berperan merencanakan dan
mengimplementasikan pelajaran yang baik sehingga peserta didik mampu untuk
belajar dengan baik di kelas.
6) Pendekatan
Perubahan Perilaku. Pendekatan ini merupakan sebuah proses untuk mengubah
perilaku peserta didik di dalam kelas. Guru berperan untuk mengembangkan
perilaku peserta didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik.
Pendekatan perilaku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan
pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan puas atau senang. Sedangkan
perilaku yang kurang baik akan diberi sanksi atau hukuman yang menimbulkan
perasaan tidak puas dan pada akhirnya perilaku tersebut akan dihindari oleh
peserta didik.
7) Pendekatan
Sosio Emosional. Pendekatan sosio emosional akan tercapai bila hubungan antar
pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut seperti hubungan
antar guru dengan peserta didik, serta hubungan antara sesama peserta didik.
Peran guru di sini ialah mengembangkan iklim kelas yang baik melalui
pemeliharaan hubungan antar pribadi kelas, baik antara guru dengan peserta didik
maupun hubungan antar peserta didik. Untuk menciptakan hubungan yang positif
antara guru dengan peserta didik, maka guru harus bersikap mengerti dan
mengayomi kepada peserta didik, peserta didik juga perlu diberikan pemahaman
tentang pentingnya untuk saling memahami, menghargai, dan saling bekerja sama
antar peserta didik.
8) Pendekatan
Kerja Kelompok. Pada pendekatan ini guru
berperan menciptakan kelompok belajar di kelas. Kelompok belajar tersebut
membutuhkan keterampilan guru dalam menerapkan strategi dalam penciptaan
kelompok belajar yang produktif dan efektif. Guru juga perlu untuk
mengembangkan kondisi kelompok belajar tetap kondusif dalam mengikuti setiap
proses belajar dang pembelajaran yang dilaksanakan di kelas, untuk menjaga
kondisi kelas tersebut guru perlu mempertahankan semangat yang tinggi,
mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
9) Pendekatan
Elektis dan Prularistik. Pendekatan elektis atau electic approach ini
menekankan pada potensi, kreativitas, dan inisiatif dari guru dalam memilih
berbagai pendekatan yang tepat dalam berbagai situasi yang dihadapi kelas.
Pendekatan ini juga disebut dengan pendekatan pluralistic, dimana pengelolaan
kelas dengan memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan
dan mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien. Di sini guru
berperan untuk memilih dan menggabungkan secara bebas berbagai pendekatan dalam
manajemen kelas, yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki dalam
manajemen kelas.
10) Pendekatan
Teknologi dan Informasi. Pendekatan ini berasumsi bahwa pembelajaran tidak
cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan saja, pembelajaran
modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas.
Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi ini sangat dibutuhkan oleh peserta
didik sesuai dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan teknologi dan informasi
merupakan basis dalam pengembangan pembelajaran di dalam kelas, baik dalam
pengaturan kelas denga alat teknologi (praktik), maupun kelas yang diatur
dengan alat teknologi yang memungkinkan peserta didik dapat mempelajari apa
yang diinginkan dengan bantuan alat teknologi. Guru juga perlu memahami
pembelajaran teknologi dan informasi tidak hanya berfokus pada teknologi
komputer saja, terdapat pula alat lainnya yang bisa dimanfaatkan dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti teknologi telepon, video
berteknologi tinggi, dan alat teknologi lainnya. Guru juga harus dapat memilih
dan menentukan teknologi dan informasi apa tang dibutuhkan dalam proses
pembelajaran.
Referensi:
Efendi, Rinja dan Delita
Gustriani. 2020. Manajemen Kelas di Sekolah Dasar. Penerbit Qiara Media:
Pasuruan.
Toharudin, Moh. 2020. Buku
Ajar Manajemen Kelas. Lakeisha: Klaten.
Komentar
Posting Komentar