MANAJEMEN SEKOLAH
Nama : Reni Anggraini Gunawan
NIM : 11901017
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliah : Magang 1
Dosen : Farninda Aditya, M. Pd.
LAPORAN BACAAN 8
MANAJEMEN SEKOLAH
Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan dalam arti sempit, manajemen adalah manajemen sekolah/madrasah yang meliputi: perencanaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah/madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, pengawas/evaluasi, dan sistem informasi sekolah/madrasah.
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang harus mampu mengembangkan seluruh potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Potensi-potensi tersebut meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotorik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa manajemen sekolah adalah proses mengelola sekolah melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan sekolah agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Muhammad Nur dkk, 2016).
Dalam manajemen sekolah terdapat beberapa prinsip-prinsip, yaitu (Nurdyansyah dan Andiek Widodo: 2017):
Equifinality (ekuifinalitas)
Prinsip ini didasarkan pada teori modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa metode yang berbeda dalam pencapaian tujuan. Manajemen sekolah bermutu lebih menekankan fleksibilitas. Oleh karena itu, sekolah wajib mandiri dan mengelola seluruh aktivitasnya bersama seluruh warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing.
Decentralization (desentralisasi)
Desentralisasi merupakan gejala yang penting dalam reformasi manajemen sekolah modern. Prinsip desentralisasi ini konsisten dengan prinsip ekuifinalitas. Prinsip desentralisasi ini dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktivitas pengajaran tidak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan. Pendidikan merupakan masalah yang rumit dan kompleks sehingga memerlukan desentralisasi dalam pelaksanaannya.
Prinsip ekuifinalitas yang dikemukakan sebelum mendorong adanya desentralisasi kekuasaan dengan mempersilahkan sekolah untuk memiliki ruang yang lebih luas untuk bergerak, berkembang, dan bekerja menurut strategi-strategi unik mereka untuk menjalani dan mengelola sekolahnya secara efektif. Oleh sebab itu, sekolah harus diberi kekuasaan dan tanggung jawab dalam memecahkan masalah secara efektif dan secepat mungkin ketika masalah tersebut datang. Tujuan dari prinsip desentralisasi ini adalah efisiensi dalam pemecahan masalah, bukan menghindari masalah.
Self-Management System (sistem pengelolaan mandiri)
Manajemen sekolah bermutu perlu untuk mencapai tujuan-tujuan berdasarkan kebijakan yang telah ditentukan, tetapi terdapat berbagai metode-metode yang berbeda dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Manajemen sekolah bermutu haruslah menyadari bahwa pentingnya untuk mempersilahkan sekolah menjadi sistem pengelolaan secara mandiri di bawah kebijakannya sendiri. Sekolah memiliki otonomi tertentu untuk mengembangkan tujuan pengajaran strategi manajemen, distribusi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, memecahkan masalah, dan mencapai tujuan yang berdasarkan dengan kondisi mereka masing-masing sesuai dengan sumber daya manusia dan kemampuannya. Karena sekolah dikelola secara mandiri maka sekolah tersebut memiliki inisiatif dan tanggung jawab sendiri.
Prinsip ini terikat dengan prinsip ekuifinalitas dan prinsip desentralisasi. Ketika sekolah menghadapi permasalahan maka harus diselesaikan dengan caranya sendiri. Sekolah dapat menyelesaikan masalah tersebut apabila telah terjadinya pelimpahan atau penyerahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan tersebut di tingkat sekolah maka sekolah tersebut dapat melakukan sistem pengolahan mandiri.
Human Initiative (inisiatif sumber daya manusia)
Perspektif sumber daya manusia menekankan bahwa orang adalah sumber daya berharga di dalam organisasi sehingga poin utama dari manajemen adalah mengembangkan sumber daya manusia di dalam sekolah untuk berinisiatif. Dari perspektif ini dapat diketahui bahwa tujuan dari manajemen sekolah agar dapat bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas dalam pendidikan dapat diukur dari perkembangan aspek sumber daya manusianya.
Pada prinsip ini manusia bukanlah sumber daya yang statis, melainkan dinamis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus selalu digali, ditemukan, dan kemudian dapat dikembangkan.
Adapun proses penerapan dari manajemen sekolah yang dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Kerjasama dengan unsur pemerintah Kabupaten/Kota, dalam hal ini instansi yang terkait antara lain yaitu Dinas Pendidikan, Badan Perencanaan Kabupaten/Kota, Departemen Kemendikbud/Departemen Agama, dan instansi yang terkait.
Pemberdayaan komite sekolah/majelis madrasah dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.
Memberdayakan tenaga kependidikan, baik tenaga pengajar (pendidik), kepala sekolah, petugas bimbingan dan penyuluhan (BP) maupun staf kantor, pejabat-pejabat di tingkat kecamatan, unsur komite sekolah tentang manajemen sekolah, pembelajaran yang bermutu dan peran serta dari masyarakat.
Mengadakan pelatihan dan pendampingan sistematis bagi para kepala sekolah, pendidik, unsur komite sekolah pada pelaksanaan peningkatan mutu pembelajaran.
Melakukan supervisi dan monitoring yang sistematis dan konsisten terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah agar dapat diketahui berbagai kendala dan masalah yang dihadapi, serta dapat diberikan solusi atau pemecahan masalah yang diperlukan.
Mengelola kegiatan yang bersifat bantuan langsung bagi setiap sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran, rehabilitasi/pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, dengan membentuk tim yang sifatnya khusus untuk menangani dan sekaligus melakukan dukungan dan pengawasan terhadap tim bentukan dari pelaksana kegiatan tersebut.
Dalam manajemen sekolah terdapat beberapa faktor pendukung dalam keberhasilan manajemen sekolah, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah yang baik
Manajemen sekolah yang bermutu akan berhasil apabila didukung oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional kepala sekolah/madrasah dalam memimpin dan mengelola sekolah/madrasah secara efektif dan efisien, dan mampu untuk menciptakan iklim organisasi yang kondusif untuk proses belajar mengajar.
Kondisi Sosial, Ekonomi dan Apresiasi Masyarakat terhadap Pendidikan
Faktor luar berupa faktor eksternal akan ikut dalam menentukan keberhasilan manajemen sekolah, seperti input peserta didik sebelumnya, kemampuan dalam membiayai pendidikan, kondisi tingkat pendidikan orang tua, lingkungan masyarakat sekitar, dan tingkat apresiasi dalam mendorong peserta didik untuk terus belajar.
Dukungan Pemerintah
Faktor dukungan pemerintah sangat membantu dalam efektivitas implementasi manajemen sekolah terutama bagi sekolah/madrasah yang kemampuan orang tua/masyarakat yang relatif belum siap untuk memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan. Alokasi dana dari pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan sekolah/madrasah menjadi penentu keberhasilan.
Profesionalisme
Faktor profesionalisme ini merupakan faktor yang sangat strategis untuk menentukan kinerja dan mutu sekolah/madrasah. Tanpa profesionalisme kepala sekolah/madrasah, pendidik, dan pengawas akan sulit dalam memaksimalkan program manajemen sekolah yang bermutu tinggi serta prestasi peserta didik.
Terdapat aspek-aspek dalam manajemen sekolah. Aspek-aspek tersebut adalah (Nurdyansyah dan Andiek Widodo: 2017):
Manajemen Kepegawaian
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian disebutkan bahwa kepegawaian adalah suatu yang berhubungan dengan kepentingan pegawai, baik itu kedudukan, kewajiban, hak dan pembinaan. Manajemen kepegawaian merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengadaan, pengembangan, peningkatan kompetensi, pengintegrasian dan pengelolaan tenaga kerja yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama suatu organisasi secara efektif dan efisien.
Kepegawaian di suatu lembaga pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu pendidik dan tenaga kependidikan. Sekolah merancang suatu program pengolahan data dalam suatu suatu sistem kependidikan, sehingga optimalisasi pendidik dan tenaga kependidikan dapat menunjang proses pembelajaran yang maksimal sesuai dengan visi dan misi sekolah. Adapun poin utama yang mendukung hal tersebut ialah disesuaikan dengan kondisi sekolah, pembagian tugas, mengantisipasi bila terjadi masalah, menentukan sistem penghargaan serta pengembangan profesi bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan secara adil, transparan, dan profesional.
Penugasan pendidik dan tenaga kependidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan sesuai kualifikasi dan skala prioritas. Dengan adanya database kepegawaian baik tenaga administrasi ataupun tenaga fungsional (pendidik) yang dimiliki suatu sekolah, maka efektivitas dan kinerja pegawai bisa dimaksimalkan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan merupakan proses kegiatan yang direncanakan dan diimplementasikan secara berkelanjutan agar dapat mengikuti proses belajar mengajar yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan.
Dalam pengelolaan manajemen siswa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Siswa memperoleh perlakuan sesuai dengan minta, bakat, dan keterampilannya. 2) Mendapatkan pendidikan berkelanjutan, baik pendidikan formal atau untuk mengembangkan potensi diri. 3) Siswa mendapatkan fasilitas belajar, beasiswa, penerimaan pada sekolah yang diinginkan. 4) Memperoleh penilaian dari hasil belajar. Dalam manajemen siswa terdapat dua pengelolaan kegiatan yang berbeda yaitu 1) Kegiatan di dalam kelas, meliputi pengelolaan kelas, proses belajar mengajar, menyediakan media pembelajaran, dan lain-lainnya. 2) Kegiatan di luar kelas, seperti pencatatan data siswa, menyediakan sarana ibadah, olahraga, perpustakaan, dan lainnya.
Manajemen Kurikulum
Pendidikan merupakan proses yang panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptannya, yakni bermanfaat bagi diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta, juga beserta segenap isi dan peradabannya. Untuk mewujudkan hal ini maka keberadaan kurikulum di sekolah merupakan faktor utama selama aktivitas pembelajaran berlangsung. Setiap peserta didik akan mengikuti aktivitas pembelajaran berdasarkan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah. Kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional yang mengacu pada falsafah dan cita-cita bangsa, perkembangan siswa, serta tuntutan dan kemajuan masyarakat.
Manajemen Penilaian
Pihak manajemen sekolah menyusun program penilaian hasil belajar peserta didik ditujukan pada standar penilaian pendidikan yang dilakukan sesuai dengan kalender akademik. Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan untuk seluruh mata pelajaran dan membuat catatan secara keseluruhan. Dari hasil yang diperoleh tersebut, jika ada kekurangan maka akan disusun program remedial dan dilakukan klarifikasi capaian ketuntasan yang diperoleh peserta didik. Tahap selanjutnya adalah menyusun laporan kepada pihak yang memerlukan, pertimbnagan kenaikan kelas dan kelulusan serta dokumentasi.
Program penilaian hasil belajar ini hendaknya dievaluasi secara periodik yang didasarkan pada kegagalan atau kendala dalam melaksanakan program pendidikan. Manajemen sekolah menetapkan standar prosedur penilaian transparan sistem evaluasi hasil belajar untuk penilaian formal yang berkelanjutan. Setiap pendidik nantinya akan mengembalikan hasil kerja siswa yang sudah dinilai dan memasukkan data penilaian pada sistem informasi manajemen penilaian.
Penilaian yang dilakukan meliputi semua materi dan kompetensi yang telah dipelajari yang mengacu pada standar penilaian pendidikan. Kemajuan yang telah dicapai peserta didik dalam proses pembelajaran dipantau dan dicatat secara sistematis, serta diinformasikan kembali kepada peserta didik agar peserta didik termotivasi untuk melakukan perbaikan.
Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah serangkaian kegiatan lembaga yang terkait dengan pengelolaan keuangan, menggunakan keuangan, dan menyajikan laporan pertanggungjawaban untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan, Pengelolaan keuangan bisa dengan memanfaatkan dari berbagai sumber yang sesuai dengan prosedur baik yang berasal dari pemerintah, masyarakat atau bantuan operasional sekolah/madrasah.
Dalam pengelolaan keuangan sekolah, ada beberapa hal yang menjadi perhatian utama bagian keuangan: a) bisa bekerja sama dengan bagian lainnya yang bertanggungjawab terhadap perencanaan umum lembaga. b) fokus pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan. c) menciptakan setiap program kerja dengan efisien dan efektif. d) mengelola berbagai bantuan operasional sekolah dengan transparan dan akuntabel.
Manajemen Aset
Manajemen aset merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang mengelola berbagai aset pendidikan agar selalu dapat digunakan pada proses belajar mengajar. Aset dibagi menjadi dua aset yaitu aset lancar dan aset non lancar.
Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan. Aset non lancar meliputi aset yang bersifat jangka pandang dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.
Aset non lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset lainnya. Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari suatu periode akuntansi. Investasi jangka panjang terdiri dari investasi non permanen dan investasi permanen.
__________________________________________________________________________
Referensi:
Nur, Muhammad dkk. “Manajemen Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan pada SDN Dayah Guci Kabupaten Pidie”. Jurnal Administrasi Pendidikan, Volume 4, Nomor 1, Februari 2016.
Nurdyansyah dan Andiek Widodo. 2017. Manajemen Sekolah Berbasis ICT. Nizamia Learning Center: Sidoarjo.
Komentar
Posting Komentar